13 Oktober 2008
Mother how are you today
30 September 2008
KAPOLRI Baru
Om Tanto, tante, ompungku dan mama
saat masih menjabat sebagai Kapolda Sumut
Om Bambang bersama keluargaku dalam acara pernikahan adikku
Saat masih menjabat sebagai Kapolda Sumut
28 September 2008
Seni Foto
Aku menyukai dunia fotografi tanpa melalui peroses pendidikan atau pelatihan khusus, hanya mengandalkan apa yang kulihat dan kurasa, dan dalam kesempatan ini aku mencoba menampilkan beberapa jepretku
Hasil bagus ditentukan lokasi yang bagus??
Banyak lokasi yang justru dijauhi manusia bisa menjadi obyek foto, seperti foto dibawah ini yang lokasinya justru adalah sebuah bak sampah
Hasil yang bagus ditentukan obyek yang bagus?
Salah satu contoh obyek yang menurutku tidak ada indah-indahnya, tetapi bisa dijadikan obyek foto, seperti motherboard computer, lampu penerang sebuah gang, dan pohon kelapa dimalam hari
Dalam semua foto yang aku tampilkan ini menggunakan Camera Sony DSC-H5, kamera Non-SLR yang menurutku hasilnya cukup baik. Ini bukan iklan, tetapi hanya wadah bertukar dan berbagi informasi, siapa tau ada yang kebetulan berencana membeli camera, mungkin dengan foto-foto yang aku tampilkan bisa menjadi pertimbangan, karena tujuan orang membeli camera bukan saja untuk mengabadikan sebuah moment, tetapi juga mendapatkan hasil yang cemerlang dari kamera yang dimiliki.
Seorang temanku fotografer kemarin berbincang-bincang denganku, ia berkata bahwa beberapa waktu lalu ia menghadiri sebuah acara pernikahan dan dalam acara itu ia bertemu dengan fotografer istana dan berbincang-bincang dengannya, beliau mengatakan bahwa beliau berani bertaruh kalo hasil fotonya bisa lebih bagus walau dengan menggunakan camera pocket dibanding hasil temanku walau ia menggunakan camera SLR, inti dari pembicaraan itu ia menekankan bahwa kualitas hasil foto bukan ditentukan oleh cameranya melainkan tekhnik pengambilan gambarnya. Menurutku ada benarnya tetapi ada juga salahnya, memang benar kalo kualitas foto sangat ditentukan oleh tekhnik pengambilannya, tetapi kualitas camera pun sangat menentukan hasil gambar yang mampu ditangkap oleh camera itu sendiri, dan hal ini sudah aku buktikan dengan mengambil obyek, jarak dan sudut pandangn yang sama, dengan pengaturan default menghasilkan perbedaan gambar dari sisi kecerahan dan ketajaman
Berikut adalah hasil foto terbaik menurutku dari sekian banyak koleksi fotoku yang ku simpan
Berusaha untuk bisa lebih baik, hal itu yang membuat aku terpikir mengganti kameraku dengan sesuatu yang lebih seksi, setelah aku banding-bandingkan melalui website dan perbincangan dengan para fotografer yang diantaranya memakai Canon dan Nikon, aku menentukan pilihanku ke Sony DSLR Alpha 700 disamping karena aku puas atas hasil jepretan Sony ku saat ini yang bisa dikategorikan kamera biasa.
Sebelum hal itu aku lakukan aku ingin menampilkan koleksi foto-foto hasil jepretanku sendiri.
Animal Art Photography
Flower Art Photography
Art of Travelling Photography
People Art Photography
Uncommon Art Photography
Namun mengingat harganya yang tidak murah (lensanya saja mencapai 4jt an belum termasuk External Flashnya, dan Batree Grip yang dibandrol lebih kurang total kedua item itu sekitar 5jt-an, baru asesorisnya saja sudah 9 jt bagaimana dengan kameranya sendiri? Sony DSLR Alpha 700 dihargai lebih kurang 13 jt (body only) garansi resmi Sony - Mahal Sekali?? Itu tidak seberapa ketimbang sebuah Cannon 1Ds MK III yang dihargai sekitar Rp.68jt.
Hal itu membuatku berpikir 2x mengingat suatu hal yang pasti banyak orang tidak mengetahuinya bahwa: "Semua Camera Digital memiliki umur pemakaian sebanyak lebih kurang 50.ooo kali jepret untuk kemudian tidak bisa digunakan lagi".
26 September 2008
Speed Tester
Dunia Tanpa Batas
Media merupakan sarana hiburan dan informasi yang teramat penting bagi kita. Namun bagaimana kondisi media pun bisa merusak generasi Bangsa bahkan memecah belah Bangsa itu sendiri. Media dapat membuat berbagai pihak ragu-ragu dalam melangkah atau mengambil keputusan.
Bagaimana seorang Mediator mendapat keuntungan?? Tentunya dengan menyajikan informasi yang menarik untuk dibaca atau ditonton, dan dalam pelaksanaan hal itu banyak terjadi para Mediator tidak lagi menghormati keprivasian seseorang, aturan, atau mungkin resikonya bagi orang lain terhadap berita / informasi yang disajikan hanya demi seonggok rupiah yang mereka dapat melalui berita yang mereka jual.
Petugas POL-PP memukul wartawan, Baim Wong terlibat keributan dengan wartawan, aparat diadili karena memukul wartawan, itu adalah sebagian dari contoh kecil berita yang diedarkan, yang kebanyakan dari semua itu hanya menceritakan bahwa seorang wartawan mendapatkan perlakukan yang kurang pantas. Namun pernahkah diberitakan bagaimana Wartawan memaksa seseorang untuk mendapatkan informasi bahkan melakukan pemata-mataan terhadap seseorang seperti "Paparazi" yang dampaknya orang yang tidak terima selalu dibuntuti melakukan pemukulan terhadap wartawan. Jika diteliti lebih lanjut, banyak kejadian kekerasan kepada Mediator / Wartawan lebih banyak diakibatkan oleh kearogansian mereka sendiri untuk mendapatkan berita yang menarik untuk dijual tanpa memperhatikan keprivasian atau kesibukan obyek yang akan diambil informasinya.
Pernahkah terpikir memuncaknya Tragedi Mei 98 lalu salah satu penyebabnya adalah pemberitaan sepihak oleh Media? Seolah saat itu semua media kompak hanya mempertunjukkan bagaimana kekerasan Aparat terhadap masyarakat untuk menambah kebencian masyarakat kepada Pemerintahan yang ada saat itu.
Dunia Media seperti tanpa batas, bahkan seolah tidak ada lagi yang berani membatasi ruang gerak Media tidak juga Aparat Penegak Hukum, karena khawatir namanya termuat dimedia dengan berita yang cenderung merugikan.
Semoga saja para mediator dapat memposisikan fungsinya yang sangat memiliki pengaruh terhadap kondisi emosi para penonton / pembacanya untuk lebih positif yang tidak hanya sebatas memberitakan "Cerita Seru" agar lebih banyak pembeli...